Jember, 23 Mei 2026 – Perkembangan dunia pendidikan, khususnya dalam bidang kesehatan, menghadirkan berbagai tantangan yang semakin kompleks bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa kedokteran gigi. Tingginya tuntutan akademik, padatnya jadwal perkuliahan, banyaknya tugas dan laporan, serta tekanan dalam menjalani praktikum dan ujian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan kedokteran gigi. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk mampu beradaptasi secara optimal terhadap lingkungan akademik yang kompetitif dan dinamis.
Menyikapi realitas tersebut Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember menyelenggarakan kegiatan Mental Health Sharing Session with Department Kastrad 2026 dengan tema “V.O.I.C.E.: Validating Overload, Integrity, and Pre-Clinical Student Empowerment.” Kegiatan yang dihelat Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Jember ini digelar pada Hari sabtu 23 Mei 2026 ini menghadirkan Bapak Erdi Istiaji, S. Psi., M. Psi., Psikolog., sebagai pemateri.

Dosen Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku Universitas Jember ini memaparkan materi sekaligus berbagi pengalaman dengan peserta yang terdiri atas mahasiswa klinik dan pre klinik. Vibes hangat, rileks dan seru terpancar pada sesi diskusi.
Menurut Ketua Panitia kegiatan, Naila Marsha Winola, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember menyelenggarakan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental mahasiswa, khususnya mahasiswa pre-klinik kedokteran gigi. Mahasiswi semester empat ini berharap melalui sharing session ini diharapkan mahasiswa dapat mengenali tantantangan pendidikan yang dihadapinya sehingga mampu untuk mengenali kondisi diri, menjaga stabilitas emosional, serta membangun mekanisme coping yang adaptif sebagai bagian proses pembentukan profesionalisme sejak dini.

Mahasiswa kedokteran gigi sebagai calon tenaga medis tidak hanya dituntut untuk memiliki kompetensi akademik dan keterampilan klinis yang baik, tetapi juga perlu memiliki ketahanan mental dan kemampuan mengelola stres secara sehat. Oleh karena itu, diperlukan adanya ruang diskusi yang mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya kesehatan mental, sekaligus memvalidasi bahwa rasa kewalahan dan tekanan yang dirasakan selama proses pendidikan merupakan hal yang nyata dan manusiawi.

Sementara Ketua BEM FKG, Iffannudin Putra Hardiansyah, berharap kegiatan ini dapat membentuk mahasiswa tidak hanya berkembang sebagai individu yang unggul secara intelektual dan klinis, tetapi juga memiliki ketahanan mental, empati, serta kesiapan diri dalam menjalani pendidikan dan profesi sebagai tenaga medis di masa mendatang. (agp)



